LSI: Kampanye Terakhir Hanya Euforia, Sulit Menaikkan Elektabilitas

  • Bagikan

DEKANDIDAT.ID – Ambisi PDIP untuk tetap menjadikan wilayah Jawa Tengah sebagai ‘Kandang Banteng’ dengan menggelar kampanye terakhir di Semarang, sepertinya sulit terjadi. Kampanye terakhir dinilai hanya merupakan euforia, sulit untuk menaikkan elektabilitas.

Hal demikian dikatakan Peneliti Senior Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, Adjie Alfaraby, saat merilis survei terbarunya bertajuk ‘7 Hari Sebelum Pencoblosan, Satu Putaran Semakin Terbuka’, Jumat (9/2) siang, di Rawamangun, Jakarta.

“Kampanye terakhir lebih kepada euforia. Mereka yang hadir masing-masing sudah mempunyai pilihannya,” jelas Adjie.

Dia mencontohkan, Anies Bawsedan menggelar kampanye terakhirnya di Jakarta International Stadium (JIS), Jakarta Utara. “Kampanye terakhir Anies juga hanya euforia saja,” tegasnya.

Sebelumnya, PDIP sengaja mengadakan kampanye terakhirnya di Semarang, Jawa Tengah, tujuannya untuk membilas jejak kaki Jokowi yang di pekan-pekan terakhir masa kampanye sempat datang ke sejumlah wilayah di Jawa Tengah.

Potensi 1 Putaran

Menurut survei terkini LSI Denny JA yang dilakukan 26 Januari –  6 Februari 2024, delapan hari jelang pemungutan suara, elektabilitas Prabowo-Gibran sebesar 53,5 persen. Pasangan tersebut unggul telak dari dua saingannya, Anies-Muhaimin (21,7 persen), dan Ganjar-Mahfud (19,2 persen).

Adapun responden yang belum menjawab/rahasia/tidak tahu sebesar 5,5 persen. Lalu, ada 0,1 persen responden yang salah mencoblos mengingat survei dilakukan dengan cara simulasi pencoblosan surat suara.

Survei LSI dilakukan lewat wawancara tatap muka terhadap 1.200 yang dipilih menggunakan metode acak bertingkat (multistage random sampling). Toleransi kesalahan atau margin of error survei ini kurang lebih 2,9 persen.

“Dengan elektabilitas 53,5 persen, artinya Prabowo-Gibran terbuka peluangnya untuk menang di Pilpres 2024 pada 14 Februari nanti dengan satu putaran saja,” jelasnya.

Berdasarkan UU Pemilu, syarat untuk memenangi pilpres dalam satu putaran adalah meraih 50 persen plus satu suara dan mendapatkan minimal 20 persen suara di 20 provinsi.

“Tren elektabilitas Prabowo-Gibran juga menunjukkan bahwa pasangan itu berpeluang besar memenangi pilpres dalam satu putaran. Tren elektabilitas Prabowo-Gibran selalu mengalami kenaikan sejak November 2023.”

Pada awal Januari, kata dia, elektabilitas Prabowo-Gibran 46,6 persen. Lalu naik ke angka 50,7 persen pada akhir Januari. Lalu naik lagi ke angka 53,5 persen sekarang.

“Kalau kita bandingkan dari awal Januari ke Februari 2024 ini kenaikan kurang lebih 7 hingga 8 persen. Dalam konteks pemilu nasional, itu kenaikan signifikan karena di atas margin of error,” ujarnya.

Saat elektabilitas Prabowo-Gibran trennya selalu naik, lanjut Adjie, elektabilitas pasangan Anies-Imin dan Ganjar-Mahfud justru turun. “Ada migrasi suara dari pendukung Ganjar-Mahfud ke Prabowo-Gibran,” tukas Adjie.

Total Views: 30 ,
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *